SDN Ulujami 06 Pagi -

Guru  memiliki peran yang sangat vital, tidak hanya  bagi dunia pendidikan namun juga peradaban suatu bangsa. Oleh sebab itu ketika Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh tentara sekutu, keberadaan guru menjadi yang pertama kali diperhitungkan oleh kaisar Hirohito. Sebab dari kualitas guru, kita bisa melihat mutu pendidikan suatu negara.  Oleh karena itu, tidak boleh tidak! peningkatan sumber daya manusia di sekolah harus menjadi perhatian sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan internal sekolah tersebut.

Maka ketika LPMP dengan program SPMI nya menunjuk SDN Ulujami 06 Pagi untuk menjadi salah satu sekolah model, seluruh civitas amat menyambut baik program tersebut. Karena hal tersebut merupakan sebuah langkah pendorong bagi sekolah kami untuk bisa mempertahankan eksistensinya dengan prestasi dan tentu saja dengan peningkatan mutu pendidikan di internalnya.

Mutu guru menjadi fokus dan lokus kami untuk bisa kami tingkatkan. Karena guru merupakan representasi mutu sekolah, oleh karenanyalah keberadaan dan kompetensinya harus diutamakan dalam program peningkatan mutu pendidikan di sekolah kami.

Berawal dari guru yang mumpuni akan tercetak peserta didik yang terasah potensi dan kompetensinya. Karena guru yang mumpuni tidak hanya memiliki keluasan ilmu namun juga sutradara yang handal dalam mengorkestrasikan pembelajarannya di kelas agar menjadi sesuatu yang menarik dan selalu ditunggu-tunggu peserta didiknya.

“Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu” Ali Bin Abi Thalib

Kiranya kutipan tersebut menggambarkan kepada kita bahwa mendidik anak haruslah disesuaikan dengan zaman yang akan dihadapinya kelak. Karena zaman yang akan dihadapinya  pasti berbeda dengan zaman yang dihadapi orang tua serta bapak ibu gurunya.

Di abad 21 ketika semua kemajuan teknologi informasi membanjiri anak-anak kita dengan gawai yang mereka pegang dan dengan mudahnya mereka bisa mengakses informasi yang mereka inginkan. Tentulah seharusnya kemampuan mengajar dan mendidik para guru lebih sesuai dengan perkembangan zaman agar pembelajaran yang dihadirkan menarik dibandingkan dengan tontonan atau game yang ada pada gawai mereka.

Seorang guru tidak hanya dituntut untuk “melek” teknologi tapi juga harus membangkitkan semangat  belajar murid-muridnya. Oleh karena itu ketika LPMP dalam program SPMI sekolah modelnya menawarkan 5 program untuk digulirkan, maka dalam rapat TPMPS yang dilaksanakan pada tanggal 12 Juli 2019, SDN Ulujami 06 Pagi memutuskan untuk mengadakan workshop Penyusunan RPP Abad 21.

Penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran atau RPP merupakan langkah awal seorang guru sebelum memulai kegiatan belajar mengajarnya di kelas. Dalam rencana pelaksanaan pembelajaran guru harus bisa mengorkestrasikan pembelajaran yang akan disusunnya agar kegiatan belajar yang akan dirasakan siswa menjadi bermakna.  Sesuai dengan kutipan sebuah adagium “Gagal merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan”.

Rencana pembelajaran yang disusun guru tidaklah hanya berbunyi materi-materi pelajaran yang akan diajarkan. Akan tetapi juga dituntut untuk bisa mengembangkan kecakapan abad 21 atau yang kita kenal dengan istilah 4C,  yaitu:   collaboration (kolaborasi), communication (komunikasi), critical thinking (berpikir kritis), dan creative (kreatif).

Pada Workshop Penyusunan RPP Abad 21 yang diselenggarakan dua hari berturut-turut tanggal 25 dan 26 September 2019, kami tidak hanya diajari tentang penyusunan RPP secara teknis. Namun juga hal yang lebih substansi, yaitu menciptakan pembelajaran yang bisa mengeksplorasi kompetensi siswa dengan model-model pembelajaran abad 21.

Kegiatan Pemenuhan Mutu: Workshop Penyusunan RPP Abad 21

Model-model pembelajaran abad 21 amat menekankan adanya student centered, oleh karenanya model pembelajaran tersebut menjadikan anak ikut berpartisipasi aktif dan tidak lagi menjadi pendengar yang pasif.  Drs.H.M. Said, M.Pd. dalam penjelasannya kepada kami mengatakan setidaknya ada 4 metode pembelajaran abad 21, yakni:

  1. Discovery Learning
  2. Inquiry Learning
  3. Project Based Learning
  4. Problem Based Learning

Secara teknis penerapan model-model pembelajaran tersebut memiliki tahapan (sintaks) masing-masing.

Akhirnya, berawal dari pengetahuan yang didapatkan pada workshop tersebut para guru mulai mencoba untuk menerapkannya dalam kegiatan pembelajaran. Sebagai salah satu contoh pembelajaran yang diterapkan  kelas tinggi  di kelas enam pada Tema 6: Wirausaha, secara serempak kelas 6 A dan 6 B mengadakan “Pekan Wirausaha” yang diadakan hanya satu hari. Pekan wirausaha ini diadakan dengan tujuan untuk mengimplementasikan substansi kompetensi yang ada pada tema tersebut dan tentu juga menghadirkan kecakapan abad 21.

Siswa diminta secara berkelompok untuk membuat produk makanan atau minuman untuk ditawarkan dan dipasarkan di sekolah pada jam istirahat. Pada kegiatan ini siswa diminta untuk bisa bekerjasama dengan kelompoknya untuk menentukan dan membuat produk yang akan  dijual secara  bersama-sama. Tidak hanya itu, siswa juga dituntut untuk kreatif dalam membuat reklame dan memikirkan strategi dalam memasarkan produknya.

Pelaksanaan Pekan Wirausaha oleh Siswa Kelas Enam

Sebagian besar siswa merasa senang dengan pembelajaran seperti ini, karena mereka dapat merasakan pengalaman belajar yang sangat berbeda dan menyenangkan. Hal tersebut tentu tidak akan terjadi jika sebelumnya LPMP dengan program pemenuhan mutunya menginspirasi kami untuk mengadakan perubahan dalam cara mengajar.  Secara tidak langsung LPMP  dengan program SPMI nya telah mengubah cara pandang guru-guru untuk bisa lebih kreatif dalam menciptakan pembelajaran yang tidak hanya menarik namun juga menyenangkan bagi siswa.

Pada akhirnya, kegiatan serupa workshop tersebut dirasa amat perlu bagi para guru khususnya di SDN Ulujami 06 Pagi untuk meng up grade kemampuannya dan tentu saja agar bisa menghadirkan sesuatu yang terbaik bagi anak bangsa. Dari sini kami berkomitmen untuk bisa melaksanakan workshop- workshop semacam ini secara kontinyu, agar terbangun  mutu guru abad 21. Guru yang tidak hanya menguasai dan memahami kecakapan abad 21 namun juga bisa menurunkannya kepada siswa dalam bentuk pembelajaran yang bermakna.

Kami, SDN Ulujami 06 Pagi bersama LPMP telah memulai langkah memajukan pendidikan dengan meningkatkan mutu guru-guru demi terwujudnya mutu pendidikan yang tidak hanya sesuai standar namun juga melampauinya.  Dan tentu saja, meningkatkan mutu pendidikan bukanlah pekerjaan semalam. Ia nya dikerjakan terus menerus dan tak pernah ada kata selesai. Sebab setiap zaman memiliki masalah dan tantangannya sendiri. Pun, hal tersebut bukan hanya tanggung jawab orang-orang yang berkecimpung dalam bidang pendidikan saja. Melainkan tanggung jawab orang-orang yang berada di luar lingkar pendidikan.

LPMP dengan program SPMI nya telah menggandeng banyak sekolah untuk bisa meningkatkan mutu pendidikan sesuai dengan tahapan-tahapan yang benar. Dengan program tersebut juga kami merasa tercerahkan untuk bisa terus berupaya membuat program-program yang bisa menggesa mutu pendidikan di sekolah kami.